Category: Uncategorized

Mengapa Cincin Pernikahan Harus Ditaruh di Jari Manis?

Ikuti langkah berikut ini, Tuhan benar-benar membuat keajaiban (ini berasal dari kutipan Cina)

1. Pertama, tunjukkan telapak tangan anda, jari tengah ditekuk ke dalam (lihat gambar)
2. Kemudian, 4 jari yang lain pertemukan ujungnya.
3. Permainan dimulai, 5 pasang jari tetapi hanya 1 pasang yang tidak terpisahkan…
4. Cobalah membuka ibu jari anda, ibu jari mewakili orang tua, ibu jari bisa dibuka karena semua manusia mengalami sakit dan mati. Dengan demikian orang tua kita akan meninggalkan kita suatu hari nanti.
5. Tutup kembali ibu jari anda, kemudian buka jari telunjuk anda, jari telunjuk mewakili kakak dan adik anda, mereke memiliki keluarga sendiri, sehingga mereka juga akan meninggalkan kita.
6. sekarang tutup kembali jari telunjuk anda, buka jari kelingking, yang mewakili anak-anak. cepat atau lambat anak-anak juga akan meninggalkan kita.
7. selanjutnya, tutup jari kelingking anda, bukalah jari manis anda tempat dimana kita menaruh cincin perkawinan anda, anda akan heran karena jari tersebut tidak akan bisa dibuka.
Karena jari manis mewakili suami dan istri, selama hidup anda dan pasangan anda akan terus melekat satu sama lain.

Real love will stick together ever and forever

Thumb represent parents
Second finger represent brothers & sisters
Centre finger represent own self
Fourth finger represent your partner
Last finger represent your children
Warm Regards

Baiklah, Baiklah

Seorang gadis di kampung nelayan hamil di luar nikah. Setelah berkali-kali dipukuli, akhirnya ia mengaku bahwa bapak dari anak yang dikandungnya adalah Guru Zen yang merenung sepanjang hari di dalam kuil di luar desa.

Orang tua si gadis bersama banyak penduduk desa beramai-ramai menuju kuil. Dengan kasar mereka menyerbu Guru yang sedang berdoa. Mereka menghajarnya karena kemunafikannya dan menuntut bahwa ia sebagai bapak anak itu wajib menanggung biaya unuk membesarkannya. Jawaban Guru itu hanyalah, “baiklah, baiklah.”

Setelah orang banyak pergi meninggalkannya, ia memungut bayi itu dari lantai. Ia minta supaya seorang ibu dari desa memberi anak itu makan dan pakaian serta merawatnya atas tanggungannya.

Guru itu jatuh namanya. Tidak ada lagi orang yang datang untuk meminta wejangannya.

Ketika peristiwa itu sudah berlalu satu tahun lamanya, gadis yang melahirkan anak itu tidak kuat menyimpan rahasiannya lebih lama lagi.
Akhirnya ia mengaku, bahwa ia telah berdusta. Ayah anak itu sebetulnya adalah pemuda di sebelah rumahnya. Orang tua si gadis dan para penduduk kampung amat menyesal. Mereka bersembah sujud di kaki Guru untuk mohon maaf dan meminta kembali anak tadi. Guru mengembalikannya dan yang dikatakannya hanyalah: “baiklah, baiklah!”

–Orang yang sungguh-sungguh sadar! Kehilangan nama? Tidak banyak berbeda dengan kehilangan kontrak yang mau ditandatangani dalam mimpi–

Memasuki Relung Hati Para Pelaku Bisnis

January 30th, 2010 |

(oleh Arbono Lasmahadi)
Muhamad Yunus, seorang Doktor Ekonomi lulusan Amerika Serikat. Pada awalnya dia sangat antusias untuk mengajarkan teori-teori ekonomi yang elegan kepada para mahasiswanya. Belakangan dia merasa bahwa hal-hal yang diajarkannya ternyata hanyalah rekaan semata yang tidak memberikan makna kepada kehidupan manusia. Di sekeliling kampus tempatnya mengajar, dia menemukan banyak orang-rang miskin yang sedang menantikan kematiannya, dan dia menganggap ilmu ekonomi yang ia ajarkan tidak dapat membantu mereka, kaum papa.

Puncak dari perubahan hidupnya terjadi, saat dia bertemu dengan seorang wanita pembuat bangku dari bambu. Setelah berdiskusi panjang dengan pembuat bangku tersebut, dia menemukan bahwa sang wanita itu hanya memperoleh keuntungan 2 penny Dolar Amerika untuk hasil kerja kerasnya dan untuk sebuah bangku bambu yang cantik. Bagaimana mungkin hal ini terjadi?

Wanita itu kemudian menjelaskan kepadanya bahwa keuntungan yang kecil ini terjadi karena dia tidak mempunyai cukup modal untuk membeli bambu, untuk membuat bangku. Akibatnya dia harus membelinya dari seorang pedagang. Pedagang inilah yang kemudian membuat aturan bahwa wanita itu harus menjual hasil karyanya kepada pedagang itu, dengan harga yang ditentukan oleh pedagang tersebut. Peristiwa itulah yang telah mengusik hati nuraninya dan mendorong dirinya pada akhirnya untuk membangun sebuah bank yang khusus membantu dan melalayani kaum papa di Bangladesh.

Lewat perjuangan panjang dan tidak kenal lelah, Karena adanya keengganan dari bank bank swasta yang ada untuk membantu, Muhamad Yunus akhirnya berhasil mendirikan Grameen Bank di Bangladesh,berkat bantuan dari Pemerintah Bangladesh. Sebuah bank yang hidup dan berkembang dengan cara memberikan pinjaman uang kepada orang-orang miskin yang hidup di desa-desa di Bangladesh. Grameen Bank,sekarang telah berkembang pesat dan beroperasi di 46.000 desa di Bangladesh, dan mempunyai 1.267 kantor cabang dan 12.000 karyawan.

Bank ini telah mampu menyalurkan pinjaman sebesar lebih dari 4.5 milyar Dolar Amerika, dalam bentuk pinjaman yang besarnya antara lain sekitar 12-15 Dolar Amerika, dengan rata-rata pinjaman 200 Dolar Amerika. Bank ini bahkan telah mampu memberikan pinjaman kepada para pengemis agar tidak lagi mengemis, dan untuk mulai berupaya berdagang, sebagai mata pencahariannya.

Kondisi yang mirip terjadi pada Mats Lederhausen, seorang profesional muda yang meraih puncak karir pada usia 30-an. Chief Executive sebuah perusahaan cepat saji dunia McDonald yang mempunyai cabang di Swedia ini pernah mengalami dilema karir. Mats tidak bahagia dengan kendati keluarganya harmonis dan berkelimpahan uang .

Ia gamang dengan pekerjaan yang ditekuninya dan ingin hidupnya menjadi lebih bermakna dengan berupaya secara aktif untuk terlibat dalam kegiatan perbaikan lingkungan. Hal itu secara nyata belumlah dilakukan dengan baik oleh perusahaan tempatnya bekerja. Hingga ia merasa bahwa kerja kerasnya selama 13 jam sehari, tidak memberikannya arti bagi kehidupannya, karena dia tidak mengabdikan dirinya pada hal-hal yang sangat dia pentingkan.

Kondisi ini yang membuat Mats mengambil keputusan untuk membuat surat kepada pimpinan perusahaannya di Amerika Serikat, yang berisi keprihatinannya atas ketidak-pedulian perusahaan atas permasalahan lingkungan hidup. Kejutan terjadi, karena Mats ternyata diundang untuk mempresentasikan gagasannya di kantor pusat di Chicago, dan kemudian diangkat menjadi Vice President Strategy , yang bertanggung jawab untuk membantu perusahaan dalam menangani isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan kepedulian sosial.

Peristiwa yang terjadi pada baik pada Mats Lederhausen dan Muhamad Yunus menggambarkan apa yang disebut sebagai adanya Kecerdasan Spiritual pada diri mereka. Kecerdasan spiritual adalah, sebuah kecerdasan yang memberikan kesadaran bahwa hidup mempunyai dimensi yang lebih dalam ketimbang sekedar menghabiskan waktu untuk memupuk modal material. (Zohar & Marshall, 2004). Menurut Stephen R. Covey dalam bukunya The 8th Habit – From Effectiveness to Greatness (2004), Kecerdasan Spiritual adalah pusat dan dasar dari semua kecerdasan yang ada (Fisik, Mental, dan Emosional), karena menjadi sumber petunjuk bagi ketiga kecerdasan tersebut.

Kecerdasan spiritual mewakili dorongan kita untuk memperoleh makna dari kehidupan dan menghubungkan kita dengan Sesuatu yang Maha tanpa batas atau Maha tak terhingga. Ia juga dapat membantu kita untuk melihat prinsip-prinsip kebenaran yang juga merupakan bagian dari hati nurani kita. Dalam bukunya SQ : Connecting with Our Spiritual Intelligence, Danah Zohar dan Ian Marshal mengatakan “Tidak seperti halnya IQ (Kecerdasan Intelektual) , yang dimiliki oleh komputer, dan EQ (Kecerdasan Emosi) yang dimiliki oleh mamalia tingkat tinggi, SQ (Kecerdasan Spiritual) secara unik hanya ada pada manusia, dan menjadi dasar yang paling penting bagi ketiga kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual menghubungkan kebutuhan manusia untuk memperoleh makna dalam kehidupannya , sebuah isu yang sangat berkaitan dengan bagian depan dari otak manusia….. .”

Kecerdasan spiritual, saat inipun telah memasuki relung-relung dunia bisnis, dengan semakin berkembangnya spiritualisme di kalangan para pimpinan puncak perusahaan-perusaha an besar di dunia. Sebagai buktinya adalah kisah-kisah berikut

A. Soichiro Honda (pendiri Honda)
Soichiro Honda adalah pendiri perusahaan otomotif raksasa Honda, yang memimpin 43 perusahaan yang berada di 28 negara. Ia tidak memiliki harta pribadi dan tinggal di rumah yang sederhana. Satu-satunya hobi yang amat disukainya adalah melukis di atas kain sutera. Bahkan ia tidak memberikan warisan kepada anak-anaknya, kecuali mengajarkan kepada mereka agar sanggup berusahan sendiri dan hidup mandiri.

B. Kyoto Ceramics
Perusahaan besar yang bergerak di bidang semi-konduktor yang mampu mencapai omzet 400 juta Dolar Amerika dalam setahun. Keuntungan bersihnya setelah dipotong pajak adalah 12 %. Cara hidup pemimpinnya adalah amat sederhana, yaitu ” memandang rendah kemewahan”.

C. Konosuke Matsushita
Konosuke Matshushita adalah pendiri dan pemimpin bisnis raksasa kelas dunia Grup Matsushita. Selain sebagai enterpreneur, beliau adalah juga seorang pendidik dan filsuf yang sangat populer. Ia telah menulis sebanyak 46 judul buku, mulai tahun 1953 hingga 1990. Di akhir hayatnya, dia menyumbang 291 juta Dolar Amerika dari saku pribadinya dan 99 juta Dolar Amerika dari kas perusahaan untuk kepentingan kemanusiaan. Ia meninggal pada usia 94 tahun. Semboyan bisnisnya adalah ” Life isn’t only for bread” atau hidup bukanlah sekedar untuk sepotong roti.

D. Forum Diskusi Kepemimpinan – Harvard Business School Pada tanggal 11-12 APRIL, 2002, Diadakan pertemuan para pimpinan puncak perusahaan internasional dari berbagai jenis perusahaan yang membahas topik ” Does Spritiuality Drive Success ?” Mereka membahas nilai-nilai spiritual yang mampu membantu mereka menjadi “powerful leaders”. Pada akhir diskusi, mereka sepakat menyatakan bahwa paham spiritualisme mampu menghasilkan lima hal, yaitu :

1. Integritas dan kejujuran
2. Energi atau semangat
3. Inspirasi atau ide dan inisiatif
4. Wisdom atau kebijaksanaan
5. Keberanian dalam mengambil keputusan.

Semua sepakat dan setuju bahwa spiritualisme tebukti mampu membawa seseorang menuju tangga kesuksesan dan berperan besar dalam menciptakan mereka menjadi seorang powerful leader.

E. Bill Gates
Bill Gates menyerahkan +/- 40 % pendapatannya untuk PBB. Dia lebih suka berbicara tentang kepeduliannya terhadap kemanusiaan, ketimbang berbicara tentang penghasilan dan keberhasilannya.

F. Herman Arif – Vice President Sebuah perusahaan besar Ia sangat peduli kepada nasib anak yatim piatu. Ia membelikan susu untuk anak-anak para korban banjir, dan memasukkan anak korban banjir yang sakit di Rumah Sakit Pondok Indah, pada kelas VIP.

G. Rahmat (bukan nama sebenarnya)
Rahmat adalah pemilik properti raksasa di bilangan Pondok Indah. Nilai-nilai positif yang berusaha diterapkan di perusahaan miliknya terbilang unik. Ia sangat memperdulikan nasib seluruh karyawannya dan nasib fakir miskin yang senantiasa dia santuninya. Sikap disiplinnya yang sangat tinggi begitu terpancar dari caranya mengelola perusahaan, disamping sikapnya yang lain yang senantiansa memegang teguh kepercayaan. Ketiga sikap tadi, seperti peduli sosial, cinta kepada karyawan, dan disiplin tinggi, telah menjadikan grup usahanya mampu meraih sukses, walaupun dunia usaha sedang dilanda krisis. Sikap ini telah mengantarkannya pada garis orbit spiritual.

Kalau kita perhatikan pada kisah-kisah di atas, maka baik Soichiro Honda, Matsushita, Bill Gates, Rahmat maupun Herman Arief sebenarnya adalah para pelaku bisnis. Namun nampaknya semua perhitungan bisnis, perilaku usaha, serta sikap pofesionalismenya hanya tertuju pada nilai-nilai spiritual.

Nilai-nilai ini mungkin tidak mereka sadari, seperti kesederhanaan, kasih sayang yang tulus,kejujuran, kepedulian, kebersamaan , dan kesetiaan. Mereka memaknai nilai-nilai kehidupan bukan pada materi atau jumlah uang yang berhasil mereka kumpulkan, justru pada pencapaian nilai-nilai spiritual.

Pada tahun 1990 Michael Persinger seorang ahli saraf telah berhasil membuktikan tentang eksistensi God Spot pada otak manusia . Hal ini kemudian diperkuat lagi oleh V.S. Ramachandran dam timnya dari California University pada tahun 1996, yang menyatakan bahwa God Spot atau pusat spiritual ini sudah “built in” pada otak manusia. Pada era tahun 1996, seorang ahli saraf Austria Wolf Singer menunjukkan bahwa pada dalam otak manusia ada proses saraf yang mempersatukan dan memberi makna pada pengalaman hidup kita.

Jaringan saraf tersebut mengikat pengalaman berharga kita, dan mendorong kita untuk hidup lebih bermakna. Temuan ini disebut sebagai The Binding Problem. Dan memang pada kenyataannya , banyak diantara para pengusaha dan profesional , justru merasa hidupnya lebih bermakna, ketika sedang memberi dengan penuh kasih sayang; ketika bersikap peduli pada sesama; berlaku jujur pada orang lain dll; dan melakukan semuanya itu bukan karena uang, nama, atau jabatan.

Perasaan lebih bermakna seperti tersebut di dalam cuplikan cerita di atas pada dasarnya adalah kebahagiaan spiritual. Menurut Ary Ginanjar Agustian, pada dasarnya ada 4 macam kebahagiaan yang dirasakan manusia, yaitu :

1. Kebahagian Material adalah kebahagian yang dirasakan seseorang saat ia memperoleh materi yang diinginkannya; misalnya uang, mobil, rumah, pakaian, dan sebagainya

2. Kebahagiaan Intelektual adalah kebahagian yang dirasakan seseorang saat ia memperoleh tingkat ketrampilan atau pengetahuan tertentu yang ia cita-citakan; misalnya memperoleh gelar Sarjana, Master, Doktor, dan sebagainya

3. Kebahagian Emosional adalah kebahagian yang dirasakan seseorang saat memperoleh pengakuan atau penghargaan atas upaya yang dilakukannya; misalnya memperoleh penghargaan sebagai karyawan terbaik, memperoleh penghargaan sebagai karyawan berprestasi terbaik, hasil kreasinya diakui oleh banyak orang, dan sebagainya.

4.Kebahagian Spiritual adalah kebahagiaan yang dirasakan seseorang saat ia dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain dan lingkungan sekitarnya yang membutuhkan; seperti memberi materi, kasih sayang, perhatian, kepeduliaan dan sebagainya.

Dari penjelasan di atas terlihat perbedaan yang paling mendasar antara kebahagiaan spiritual dan 3 kebahagiaan lainnya (materi,intelektual dan emosional) adalah pada memberi dan menerima. Kebahagiaan Spiritual diperoleh saat kita memberi kepada orang lain,sedang 3 kebahagiaan lainnya akan diperoleh saat kita menerima sesuatu yang kita inginkan atau butuhkan.

Demikianlah sekelumit tulisan pendek mengenai kecerdasan spiritual yang dapat kami rangkum dari berbagai sumber. Semoga dapat menjadi bahan referensi yang berharga bagi kita semua (Arl)

Makna Kehidupan dalam secangkir Kopi

January 3rd, 2010 |

Makna kehidupan dalam secangkir kopi.. Sekelompok alumunus yang sukses dalam karir mengunjungi profesor universitas mereka. Pembicaraan begitu cepat hingga pembahasan tentang stress dalam hidup dan pekerjaan. Profesor lalu menawarkan mereka kopi dengan pergi ke dapur dan kembali dengan sebuah poci besar dan beragam jenis cangkir porselain, plastik, kaca, kristal – ada yang terlihat sederhana, ada yang terlihat mahal, ada yang terlihat indah – dan memberitahu kepada murid-muridnya untuk melayani diri mereka sendiri dengan mengambil kopi. Ketika seluruh muridnya telah memegang secangkir kopi di tangan mereka, profesor berkata :” Jika kamu sadari, seluruh cangkir yang terlihat mahal dan indah habis dipakai menyisihkan cangkir yang terlihat sederhana dan murah. Memang sangatlah wajar dan normal untuk kalian menginginkan yang terbaik untuk dirimu sendiri, yang mana merupakan sumber dari permasalahan kalian dan ke-stress-an kalian.Yang sesungguhnya kalian inginkan hanyalah kopi, bukan cangkirnya, tetapi kalian dengan sadar mengambil cangkir yang terbaik dan saling melihat cangkir satu sama lain”; Profesor melanjutkan :”Sekarang, jika hidup adalah kopi, dan pekerjaan, uang, jabatan dalam kehidupan sosial adalah cangkirnya. Cangkir-cankir itu hanyalah alat untuk menjaga dan mengisi kehidupan, tapi kualitas dari hidup itu sendiri tidak akan berubah. Terkadang, hanya dengan berkonsentrasi pada cangkirnya, kita gagal menikmati kopi tersebut.” Jadi jangan cangkirnya yang mengendalikan hidup dan pikiranmu, tapi sebaliknya nikmatilah kopinya

Taken from Kaskus:simonmoron

Tidak Menjadi Batu Sandungan

Saat pergi ke kantor, pulang kantor atau ke mana pergi dengan berkendara. Saya seringkali menjumpai pengendara-pengenda ra lain yang dengan seenaknya menyalip saya ataupun kendaraan lain tanpa memperhatikan keselamatan atau perasaan orang lain yang menjadi korban penyalipannya. Seringkali saya jengkel karena menjadi korban penyalipan, kadang saya hanya bisa mengusap-usap dada saya sambil tidak abis pikir kok tega-teganya dia melakukan penyalipan itu pada saya.

Suatu waktu saya pernah juga saya emosi hingga tidak ada yang mau mengalah hingga akhirnya terjadi adu mulut, alasan yang dikemukakan si penyalip bahwa ia buru-buru, saya gak mau kalah saya bilang siapa sih yang gak buru-buru pagi-pagi begini, kalau gak mau buru-buru kenapa gak berangkat lebih pagi saja. Akhirnya peristiwa ini berlalu saja tanpa ada penyelesaian.

Pernah juga suatu kali saya menemukan ada pengendara motor yang terjatuh karena tidak sabar dan berusaha menyalip sebuah mobil dengan kecepatan tinggi, syukurlah keadaan jalan pada saat itu sepi dan si pengendara mobil menjalankan kendaraannya dalam kecepatan rendah jadi kecelakaan tersebut tidak terlalu fatal walaupun ya…tetap saja sakit juga kalo jatuh dari motor.

Saat lampu menyala merah, para pengendara sepeda motor – kadang-kadang saya juga – menyelip berusaha mencari celah walau sesempit lubang jarum yang penting bisa masuk untuk sampai di jajaran paling depan, seringkali mengambil jalur kiri yang diperuntukkan untuk kendaraan yang hendak belok ke kiri, demi suatu hal cepat sampai di tujuan terang saja pengendara yang hendak berbelok ke kiri jadi sewot.

Saya juga pernah jatuh dari sepeda motor saya karena jalanan yang licin akibat tangki diesel milik sebuah bus bocor dan cecerannya membasahi jalan. Saat jatuh saya ditolong oleh tukang-tukang ojek yang mangkal dekat situ. Ternyata saya adalah korban ke sekian yang ditolong oleh para tukang-tukang ojek, karena beberapa menit yang lalu sudah ada dua orang yang menjadi korban. Saya gak abis pikir koq bisa-bisanya tangki itu gak diperiksa dulu sebelum bus dijalankan trus si sopir baru sadar setelah beberapa pengendara memberitahukan hal tersebut.

Belum lama ini saya ngobrol-ngobrol dengan seorang teman sekantor yang juga pernah menjadi korban ganasnya lalu lintas Jakarta. Kita sama-sama mengeluh, tapi ada hal yang dikemukakannya yang menurut saya sangat inspiratif.

Dia memulai ceritanya dengan penyakit stroke yang menyerangnya saat ia berusia akhir 30 tahun, sehingga beberapa syarafnya menjadi tidak berfungsi hal ini membuat sang kawan tersebut agak kesulitan untuk melakukan beberapa hal yang menurut kita remeh tapi baginya sulit. Setelah stroke menyerangnya terjadi perubahan yang cukup drastis. Yang tadinya ia sering mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi sekarang ia harus mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan normal, yang tadinya bisa selip sana selip sini, slonong sana slonong sini sekarang ia menjadi pengendara sepeda motor yang tertib karena koordinasi antar syaraf yang telah rusak.

Ia berkata bahwa sekarang ia tidak bisa seperti dulu lagi tapi sekarang ia bersyukur karena ia tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.

“Kalau kita tidak bisa menjadi berkat bagi orang lain, setidak-tidaknya janganlah kita jadi batu sandungan bagi orang lain” demikian katanya. Saya terus terang tersentak mendengar kata-katanya, saya lalu bercermin diri karena seringkali saya menjadi batu sandungan bagi orang lain ketimbang jadi berkat bagi orang lain. Di jalan sering kali saya mengumpat dan memaki jika saya disalip oleh pengemudi lain, saya sering membuat orang lain senewen kadang juga istri saya senewen karena cara mengemudi saya yang membuat jantungnya berolahraga.

Selepas ngobrol-ngobrol itu saya berusaha tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain terutama di jalan tapi itu berat banget. Gila betul pikir saya tidak jadi batu sandungan saja sudah sulit gimana jadi berkat. Godaan-godaan banyak sekali muncul sampai kadang-kadang saya mengeluh. “Ya Tuhan saya kan gak minta yang besar-besar dan muluk-muluk yaitu jadi berkat bagi orang lain, saya Cuma minta supaya tidak jadi batu sandungan bagi orang lain”

Namun kembali muncul suara nun jauh di dasar hati saya. “Singkirkan dulu batu-batu sandungan yang ada dalam dirimu baru kamu bisa tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain”. Wah benar juga pikir saya. Sering dalam hati kita, kita temukan batu-batu mo batu yang segede apa tau sampai kerikil-kerikil yang sering nyelip di sela-sela sepatu kita pasti ada aja batu-batu itu. Saya pikir saya harus berdamai dengan diri sendiri dulu baru batu-batu itu perlahan-lahan bisa disingkirkan dan kita bisa tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain bahkan lebih, kita bisa menjadi berkat bagi orang lain yang kita temui, siapapun dia.

Kalo menurut saya batu-batu tersebut misalnya dendam, iri, dengki, egois dan segala turunannya yang buruk-buruk gitulah. Ada hal-hal yang sebenarnya belum kita bereskan yang akhirnya bertumpuk-tumpuk hingga masuk ke bawah sadar kita menjadi paradigma kita dalam memandang sesuatu. Atau bahasa yang lebih indahnya kita belum berdamai dengan diri kita sendiri. “Kan mustinya dia begini jangan begitu dong ke kita”. “Kamu seharusnya ngerti dong kalo saya tuh maunya begini bukan begitu”. Saya pikir benar juga, kita mungkin memahami suatu masalah dari kacamata kita sendiri dari paradigma kita sendiri, tapi apa pernah kita memandang dari kacamata atau paradigma orang lain terhadap suatu realitas yang sama? Atau apakah kita tahu dan sadar betul bahwa apa yang kita lakukan itu baik adanya untuk semua pihak bukan untuk pihak saya? Atau pernahkah kita memahami orang lain sebelum kita minta dipahami oleh orang lain.

Yang menariknya setelah berusaha cukup keras dan harus membuang batu-batu dalam hati, saya itu saya lebih nyantai dan tenang dalam menghadapi masalah-masalah di jalan. Peduli kalian mo kebut-kebutan, ..gi dah sono, toh ntar ketemu lagi di depan, gimana nggak wong jalanannya macet ato kena lampu merah. Gi deh sono kebut-kebutan ntar juga harus pelan karena jalanan di depan bopeng-bopeng atau ada polisi tidur yang melintang menghadang. Biarin aja kalian ngebut-ngebut toh tiba lebih cepat yang kalian damba-dambakan harus dibayar oleh jantung yang berolahraga high impact aerobic syukur-syukur kalo gak kecelakaan. Kayaknya untuk hal yang satu ini saya jadi teringat pepatah Jawa alon-alon waton kelakon. Lebih baik biasa-biasa aja tapi gak cepat sakit syaraf karena stress dan yang penting lebih safe.

3 Sesi Kehidupan

Hari kemarin. (PAST)

Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.

Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan;
dan mengulangi kegembiraan yang anda rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja…

Hari esok. (FUTURE)

Hingga mentari esok hari terbit,
Anda tak tahu apa yang akan terjadi.
Anda tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Anda tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba; biarkan saja…

tapi……

Hari ini. (PRESENT)

Pintu masa lalu telah tertutup;
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri anda untuk hari ini.
Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila anda mampu memaafkan hari kemarin dan

melepaskan ketakutan akan esok hari.

Hiduplah hari ini.

Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.

Hiduplah apa adanya.
Karena yang ada hanyalah hari ini; hari ini yang abadi.

Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat,

meski mereka berlaku buruk pada anda.

Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti. Ingatlah bahwa  anda menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri anda sendiri Jadi, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu bingung,  lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan SEKARANG juga!

Hello world!

Welcome to The Life Motivation. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

WordPress Themes